Thursday, October 6, 2011

droplets of memory.


Diary of A Raindrop
Lydia Angelina W.




“Kau siapa?”

Aku tidak akan melupakan bunyi kalimat pertama yang kudengar terlontar langsung dari mulutnya. Bagaimana perasaanku saat itu? Aku ingat merasakan kedua lututku gemetar dan lemas. Lidahku kelu namun entah bagaimana aku berhasil mengedutkan senyuman semampunya.

Mata coklatnya bergerak pelan seolah tengah mendaratkan penilaian terhadap setiap jengkal penampilanku. Aku tercekat. Cairan yang terkumpul pada pangkal faring kupaksa melewati tenggorokan. Apa ada yang aneh? Apa ada yang salah dari kata-kataku? Pakaianku? Rambutku?

“Apa kabar? Aku tetangga baru yang akan menghuni rumah sebelah.”

Demikian tutur kata yang telah terangkai di dalam pikiran berhasil juga kuucapkan tanpa tersisip gagap gugup. Kami hanya terpaut satu langkah. Iringan pompa di dadaku seolah menekan rusuk. Memberitahu. Aku berusaha keras tidak mengulurkan tangan untuk memeluk lehernya.

Ia mengangguk dan sepenuhnya berhasil melipatgandakan antusiasme dalam diriku saat pandangan manik selembut warna hazel itu mendarat tepat pada sepasang lain yang tak lain adalah milikku.

Detik itu aku memutuskan pastilah malaikat ini memang dikirimkan Tuhan untukku.


***


Minggu pertama di bulan Januari.

Mendung masih menggantung memayungi Seoul dengan warna kelabu pekat. Kemeriahan pesta menyambut awal tahun baru telah tergantikan rutinitas kesibukan usai libur panjang. Hujan bergulir satu persatu dari kubah langit seolah mengikuti ritmik kehidupan yang bergerak dinamis di bawahnya tanpa kenal waktu.

Aku melekat pada jendela. Meraba keberadaan rintik-rintik gerimis yang mendekorasi kaca melalui permukaannya. Sama, serupa, tak ubahnya identik satu dengan yang lain membentuk pola sejenis. Begitu kecil dan terabaikan. Seolah masing-masing berebut harap untuk dilirik. Apa kalian ingin mencuri perhatian para manusia yang tenggelam dalam kesibukannya? Aku menggumam, pastilah aku sama seperti kalian.

Andai saja bisa menjadi hujan yang turun tepat di atas jendela rumah Kak Byul.

Apakah ia akan mengenaliku di antara jutaan rintik lainnya? Andai bisa tersampaikan semua rasa yang melekat di raga. Andai bisa terpuaskan semua dahaga yang mengendap di dada.

Sembari berpikir demikian aku terhanyut dalam obrolan bersama kawan-kawan beningku.


***

Hujan masih terus turun selama beberapa hari terakhir. Irama rintiknya saat bercumbu dengan atap menjadi iringan lagu favorit yang menemani pagiku. Lebur aromanya saat bercinta dengan pucuk lavender mengingatkanku akan kehadiran hari baru yang lain telah menanti di horizon. Aku menatap keluar rumah. Sepasang daun jendela tempat aku bertengger yang biasa terekat satu sama lain kini mengayun pada engsel yang sengaja kubiarkan membuka lebar. Biar aku bisa menyapa hujan, biar menguar semua beban.

Mug berisi minuman coklat panas tergenggam manis di satu tangan, namun bukan pekat manisnya yang menyebabkan aku melupakan titik-titik di jendela. Yang kuperhatikan kini adalah genangan air yang terbentuk di bawah sana, mengisi cekungan tanah yang tidak rata. Seperti cermin kecil ia memantulkan kembali rintikan hujan malang yang terjebak ke dalamnya. Aku terhipnotis oleh bagaimana lingkaran-lingkaran getaran tercipta saat tetesan air mendarat yang kemudian menghilang sesegera tetesan lain terjatuh. Satu persatu, bergantian. Merangkai simfoni.

Ada sebuah perkataan yang mengatakan: kalau aku adalah hujan, mungkinkah aku dapat menghubungkan diriku dengan dirimu—sebagaimana hujan menyatukan langit dan bumi yang selamanya terpisah.

Aku menengadah dengan kedua tangan terulur lurus-lurus ke depan. Aku membiarkan setiap tetes menciumi tubuhku. Mengharap indahnya terlukis saat menitiki geraian surai coklat muda yang mengurai gelombang ombak di punggungku. Aku membiarkan diriku dipenuhi oleh sureal indah—tentang ia yang kucinta dan aku yang mendamba. Basah kuyup.

Ah. Hujan, hujan…

Sudikah kau berbagi denganku barang sekejap?


***

Aku terbangun oleh suara detik jam dinding yang bergema dalam ruang tengahku yang kosong. Tersentak, terduduk, dan tidak bisa pergi tidur lagi setelahnya. Leherku sakit karena bertumpu pada posisi yang salah sepanjang malam. Punggungku nyeri karena berbaring pada sofa lapuk yang sudah tidak nyaman lagi. Tidak ada penerangan selain berkas samar sinar matahari dari lapisan kaca yang menjulang hingga setinggi langit-langit, karena putusnya filamen pada bola lampu di atas sana; dan tidak ada yang bisa menggantinya dengan yang baru, tentu saja. Karena itu aku sukses membenturkan jari kaki pada ujung lemari dalam perjalanan bangkit dari duduk. Meski tidak melihat dengan jelas aku tahu ada memar biru menghias di sana.

Menggerutu dan menyumpah, aku menyeret langkah ke dapur. Mengambil mug, menyeduh air panas, namun kemudian mendapati wadah berisi bubuk minuman coklat sudah habis. Aku menghela napas. Kalau hujan masih terus turun sepanjang hari, aku tidak akan terkejut menemukan tempat ini tergenang air. Hanya tinggal menunggu waktu untuk membuktikan rumah yang kutempati sekarang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Serius.

Tentu terkecuali fakta bahwa ia berdiri tepat di sebelah rumah Kak Byul, sampai-sampai aku bisa melihat pemandangan dalam rumah megah itu lengkap bersama sosok tegap tubuh penghuninya—dengan rambut berantakan, janggut belum dicukur, dan hanya berbalut pakaian dalam saja—yang tengah menunduk untuk membuka kulkas dan mengambil selai blueberry dari dalam sana, melalui celah jendela kecil di atas counter dapurku. Dan aku baru menemui fakta ini kemarin.

Praktis semenjak kemarin pula, rintik merana di ruang tengah kehilangan teman setia yang mengajaknya bicara.


***


Hujan tidak datang hari ini.

Aku menunggu, tapi langit seolah enggan membawanya padaku. Atau barangkali ia marah karena tak kusapa belakangan? Aku menuntut angin yang ganti bertiup sepanjang siang untuk mengembalikan kawanku. Karena hanya pada hujan aku bisa menutur cerita, mampu mengungkap rasa. Aku tahu ia bersembunyi di balik mendung. Aku ingin angin membujuknya untuk kembali.

Jarum jam menunjuk angka sebelas, namun waktu memang tak pernah membatasi Seoul untuk tertidur. Aku melangkah keluar, menapakkan sepatu pada permukaan tanah yang lembab. Samar-samar terendus bau hujan merayapi atmosfer. Awan kelabu masih bergulung-gulung menyelimuti latar langit kelam, berbanding kontras dengan pendar gemerlap lampu kota, namun yang kunanti tak jua datang. Aku mengulas senyum. Kusandangkan capuchon jas hujan transparan yang tersampir di pundak, siap menantang malam. Berharap hujan akan berubah pikiran. Berharap hujan tak lagi marah. Berharap hujan tahu aku menunggunya.

Betul, biarkan kelam menyesaki malam. Karena aku tidak butuh pemandangan langit bertabur bintang, aku hanya mengharap satu bintang untuk mengisi kegelapan. Aku berhenti di perempatan, memandangi sinarnya yang berkilauan. Ia bintang yang cemerlang tanpa lelah memijarkan terang. Ia bintang yang tanpa lelah didambakan rintik gerimis.

Kak Byul.

Wahai hujan, mengapa kau masih bergeming? Aku resah, gelisah, menghela desah. Mengharap rindu ini kau sampaikan pada ia yang tak terjamah.


***


Tuk. Tuk. Tuk.

Bunyi ketuk, kuku menumbuk bening kaca jendela. Nihil. Sepi. Hanya alunan lagu berulang-ulang dari tape radio tua yang mengisi ruangan.

“Michin sarange bbajin boys and girls say oh! oh! oh!”
(Boys and girls in a crazy love say oh! oh! oh!)
“Babogateun sarange bbajin boys and girls say oh! oh! oh!”
(Boys and girls in a stupid love say oh! oh! oh!)
“Hotdwin sarange bbajin boys and girls say oh! oh! oh!”
(Boys and girls in a meaningless love say oh! oh! oh!)
“Nagateun sarange bbajin boys and girls say oh! oh! oh!”
(Boys and girls in a love like mine say oh! oh! oh!) 1)

Gila? Bodoh? Mungkin orang melabeli rasaku dengan istilah semacam itu, tapi aku tidak akan menyebutnya sebagai cinta yang tidak memiliki arti. Oh hujan, mereka tidak mengerti. Mereka bilang tidak berarti. Hanya kau yang tahu hasrat apa terpendam dalam hati.

“Naega nugunjineun mollado.”
(Even if you don’t know who I am…)


***

Sekarang aku punya televisi. Aku bukan hanya bisa mengawasi dirinya dari celah angin, namun juga layar kaca. Kupikir memang ini yang kubutuhkan. Aku perlu tahu apa yang sedang ia lakukan. Apa yang menyibukkannya di luar sana. Tentu saja ia tidak seharian berada di depan kulkas yang dapat diterawang dari jendela dapurku. Pada kenyataannya ia memang hanya terlihat di pagi hari, itupun tidak selalu. Hanya kalau sedang menghabiskan malam di rumah. Pada hari-hari yang lain sepertinya ia pergi ke luar kota atau menginap entah di mana.

Karena itu aku pergi menjual ponselku pagi ini dan menggeret pulang sebuah set televisi tua ke rumah yang kubeli seharga 200.000 won dari toko barang bekas. Lumayan antik dan kelihatan menyedihkan, tapi itulah yang membuatnya sangat pantas berada di tengah-tengah ruangan ini. Seperti biasa jendela ruang tengah kubiarkan terbuka lebar agar dapat menyusupkan cahaya. Lalu aku duduk di depan televisi sudah sepanjang hari ini, ditemani mug berisi minuman coklat yang sudah tidak hangat lagi, sambil memencet-mencet tombol ganti channel dan berharap ada siaran menampilkan sosok tampannya. Sial, sejauh ini aku belum menemukan acara berita yang mengabarkan kegiatannya, meski drama yang ia bintangi sebagai peran utama—ditayangkan di channel satu pada jam lima sore—cukup berhasil menghibur.

Oh ya, hujan masih belum pulang.


***


Kelebat kilat disusul gelegar petir menyentakkan kesadaranku untuk kembali menapak pada permukaan lantai kayu yang lapuk. Deru angin menukik, menyambar bagian plafon langit-langit yang terlepas dari atap, dan air hujan mengguyur setiap jengkal Seoul. Tentu saja dengan kealpaan satu-satunya penerangan yang biasa kudapat, ruangan ini terasa dua kali lipat lebih gelap.

Aku berdiri di tengah-tengah. Terpaku. Menggigil. Kupeluk kedua lenganku. Nanar menggenang di pelupuk. Cuplikan hitam-putih dan terputus-putus dari layar televisi di seberang terpantul pada kornea.

“…akan segera meresmikan hubungan dengan aktris muda yang tengah naik daun, Choi Soon-ah…”

Bohong.

Tidak. Katakan bahwa mereka berbohong, hujan. Bukankah mereka tidak mengerti? Mereka tidak tahu apa-apa? Benar, mereka tidak tahu. Sampaikan pada mereka, hujan. Bahwa akulah yang semestinya berada di sana. Berdiri di sisinya dan menerima tatapan penuh kasih. Aku! Yang sepantasnya dirangkul dalam dekapan dan ikatan berbentuk lingkaran logam di jari manis. Hanya saja kini belum waktunya. Tuhan belum mempertemukan kami. Tidak sekarang, namun pasti kelak!

Mengapa dunia menutup mata? Mengapa dunia menulikan telinga?

Mengapa Kak Byul mengabaikan aku?


***


Tanyakan, tanyakan padaku apa itu cinta, hujan.

Karena jawabku, jawabku kaulah cinta itu.

Dengan menghantarkan rasa yang menyesakkan menitik di daun-daun jendela.
Dengan merahasiakan rindu yang berserakan pada pucuk-pucuk ranting berbunga.
Dengan membiarkan kata yang tak terucapkan terserap akar-akar pohon.

Seperti awan yang membebaskanmu dan menjadikannya tiada, seperti itulah aku mencinta.2)


***



Lee Byul menyilang kaki—jenjang dan berlapis celana panjang warna hitam senada dengan setelan jas yang dikenakan. Ia bersandar pada sofa nyaman dari bahan beludru warna merah pekat, salah satu dari tiga buah yang berada di tengah ruangan kantor berdesain cukup mewah itu. Bosan menunggu dan mengamati selama beberapa saat—tidak banyak yang bisa ia amati karena toh tak ada yang berubah semenjak kali terakhir ada di sana kira-kira seminggu lalu—dagunya mendarat di atas kepalan tangan yang sikunya bertumpu di lengan kursi. Menguap sekarang.

Orang yang duduk di kursi sebelahnya jelas memikirkan atau mengkhawatirkan hal yang jauh berbeda. Lelaki berperawakan sekitar sepuluh—lima belas tahun lebih tua dari Lee Byul itu berkali-kali menyesap minuman beralkohol dalam gelas pendek yang tersaji di atas
 coffee table. Terkadang jari-jari besarnya menyelip ke balik jas untuk merogoh saku kemeja, mengeluarkan saputangan dari dalam sana untuk menyeka keringat pada pelipis atau lensa kacamata rabun dekatnya. Walaupun pendingin ruangan jelas berfungsi dengan baik sepertinya kelenjar minyak orang itu tak berhenti memompa cairan keluar.

Penghuni ketiga dalam ruangan yang sama duduk di tempat di mana kepala keluarga selalu duduk jika situasi ini diumpamakan sebagai meja makan. Jelas dia memiliki status sosial paling tinggi di sini, atau jelasnya merupakan pemilik dari ruang kantor itu sendiri. Penampilannya lebih necis dan eksentrik, meski dari segi usia nampak tak begitu jauh berbeda dari orang kedua. Sebuah cerutu yang terselip di balik bibirnya—tidak begitu peduli asap akan memenuhi ruang tertutup dan ber-AC itu—menandakan perasaan hati yang kurang enak. Sekilas ia menyapukan pandang pada bintang muda yang diorbitkannya dua tahun lalu bersama sang manajer di sisi kiri, kemudian pada lelaki berkumis dan mengenakan topi di sisi kanannya. Apapun yang akan meluncur dari pita suara sosok terakhir inilah yang tengah ditunggu-tunggu oleh mereka semua.

Lee Byul mengerutkan kening. Ekspresi ketidaksenangannya kian jelas terpatri seiring lancarnya kata-kata tertutur melalui cerita detektif swasta yang duduk tenang di seberang meja sambil membolak-balik catatan laporan. Sementara wajah manajernya memucat, direktur Park tidak memberi reaksi berarti. Ketika akhirnya orang sewaan agensi tempatnya bernaung itu berhenti menyelesaikan rentetan kisah, pemuda berambut gelap itu tidak kuasa menahan diri untuk tidak membuka mulut.

“Jadi maksudmu, ia bunuh diri setelah mendengar berita gosip tentang aku dan Choi Soon-ah akan menikah di televisi?”

“Begitulah kira-kira hasil penyelidikanku melalui buku harian yang ditinggalkan korban di TKP. Di sana jelas tertulis semua hal yang menguatkan dugaan bahwa ia penggemar beratmu. Dan nampaknya ia mengakhiri hidupnya sendiri setelah tidak kuat menanggung rasa kecewa atas beredarnya kabar itu.”

“Hahaha! Lelucon apa ini!?”

“Lee Byul!” Manajer Ma berhasil melampaui rasa
 shock-nya dan menghardik pemuda di sebelahnya yang mulai tertawa. Yang ditegur berhenti namun sembari memutar bola mata. Manajer Ma mendengus pelan, lalu membetulkan posisi kacamatanya di atas hidung sebelum menggumam muram, “Siapa sangka pengawasanmu terhadap ancaman stalker malah jadi berakhir dengan kasus begini.”

Direktur Park mengepulkan hembusan terakhir cerutunya, meletakkan benda kesayangannya itu dengan hati-hati pada asbak dari batu marmer yang bertengger di atas meja, kemudian menoleh pada detektif Kim. “Lalu apakah polisi juga mengetahuinya? Apa sudah ada media yang berhasil mengendus hal ini?”

Lelaki yang sudah beberapa kali bekerja untuk perusahaan agensi manajemen artis muda Korea itu mengelus rambut tipis yang berayun di bawah hidungnya. Ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke atas meja pada direktur Park. “Tidak, tidak. Kurasa mereka tidak akan tahu. Aku sudah mengamankan bukti kunci kejadian ini sebelum memberitahu kepolisian setempat mengenai kasus kematiannya. Kukatakan pada mereka aku bekerja untuk salah seorang klien yang melakukan pencarian terhadap anaknya yang melarikan diri dari rumah. Kebetulan gadis inipun sepertinya memang begitu.”

“Ia kabur dari keluarganya untuk tinggal di sebelah rumahku?”

Detektif Kim sejenak melancarkan tatapan heran pada salah satu idola remaja paling terkenal masa itu yang duduk tepat di seberangnya lantas mengangguk. “Demikian dugaanku. Ia tinggal sendirian dan kondisi rumah itu mengenaskan. Mungkin ia menyewanya dengan harga murah. Tapi aku belum berhasil mencari tahu tentang keluarganya.”

“Yang benar saja. Bukankah itu berarti ia benar-benar seorang penggemar fanatik yang suatu saat bisa saja menyerangku? Bagus kan, kalau akhirnya dia memutuskan untuk mati sendiri bahkan sebelum kita melakukan apa-apa yang mungkin dapat mempengaruhi popularitasku di kalangan fans.”

“KAU!” Manajer Ma sontak bangkit dari duduk. Kilat marah terbayang di kedua matanya ketika ia seperti hendak menerkam bocah bermuka dua yang selama ini berada dalam asuhannya. “Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal semacam itu terhadap seorang gadis muda yang merelakan hidupnya untuk memuja orang sepertimu! Apa yang kau tahu soal cinta para penggemar terhadapmu? Apa pernah kau membalas apa yang mereka berikan padamu!?”

Lee Byul jelas tidak terlihat mengerti apalagi menyesal. Satu-satunya pikiran yang berputar dalam kepalanya adalah mengapa manajernya bisa begitu marah karena alasan yang tak masuk akal. Memangnya kenapa kalau gadis itu mati? Jangankan keluarga, kenal saja ia tidak. Lagipula dosa apa dia karena begitu diidolakan oleh penggemarnya? Salah sendiri gadis bodoh itu percaya begitu saja pada gosip yang dibuat acara
 infotainment. Lagipula apa yang diberikan para penggemar histeris itu kepadanya? Boneka? Coklat? Tumpukan sampah merah jambu yang tidak berguna itu?

“Jadi sekarang aku disalahkan karena sudah membiarkan diriku dikabarkan akan menikah oleh acara gosip di televisi, begitu? Atau karena ia merupakan penggemar yang sangat mencintaiku, jadi aku harus bertanggung jawab dan membayar uang pemakamannya? Baik, lakukan saja!”

Manajernya nyaris meledak oleh amarah ketika direktur Park berusaha meredakan ketegangan di antara mereka dengan menyuruh Byul pulang duluan. “Bawa ini dan kau pergilah duluan. Berkonsentrasilah pada pembuatan albummu. Biar kami yang akan mengurus semuanya.”


***


Ia tidak kuasa mengajukan protes sebab begitu saja dijejali buku usang—yang seperti disebut tadi, merupakan peninggalan mayat tetangganya yang bunuh diri pagi tadi—karena gestur sang direktur yang menandaskan dirinya untuk segera meninggalkan ruangan beberapa saat lalu. Maka Lee Byul menyeret langkahnya menuju area parkir dengan gontai, masih dipenuhi emosi. Ditambah bayangan bahwa dirinya harus menyetir mobilnya sendiri menyusuri pusat kota pada jam-jam sibuk seperti sekarang ini kekalutannya tak ayal berada pada tingkat maksimal.

Mobil sport mewah keluaran September tahun lalu itu meluncur meninggalkan
basement. Decit ban mobilnya saat mengerem dan berbelok dengan cepat, mengindikasikan begitu prima kondisi fisik kendaraan tersebut. Warna putih catnya masih mengilat. Kaca gelap yang menyusun tiap-tiap jendelanya memastikan orang di luar tidak dapat melihat ke dalam, terutama melongok ke jok pengendara yang diduduki oleh sang bintang muda kesayangan Korea. Lee Byul mendecak dan melengos, menyetir mobil sesuai keadaan hati. Dipacunya pedal gas. Menghantam tombol klakson. Belum lagi barisan umpatan yang berkali-kali meluncur tanpa hambatan.

“Apa yang kau tahu soal cinta para penggemar terhadapmu?”—kilasan adegan dalam ruang direktur kembali terputar dalam ingatan. Memangnya apa yang salah? Ia tersenyum dan menyapa penggemarnya saat konser. Ia menyanggupi permintaan tandatangan dan foto bersama. Ia bahkan menyempatkan waktunya yang berharga untuk meng-update situs pribadi dengan hal-hal tak penting sekedar untuk menyenangkan pengunjung. Bukankah ia sempurna? Lee Byul adalah artis idola semua orang! Manajer Ma hanya mendramatisir situasi, sungutnya dalam hati.

Aksi ugal-ugalannya terpaksa terhenti saat tercegat lampu merah di perempatan kawasan perbelanjaan yang ramai oleh arus pulang para pejalan kaki yang kebanyakan pekerja kantoran. Byul memukul setir, tidak sabar ingin menjatuhkan diri ke atas tumpukan bantal. Ia tidak tidur lebih dari tiga jam selama seminggu terakhir oleh tuntutan syuting serial drama yang berat dan ditambah dengan berita kasus bunuh diri keparat itu. Satu-satunya hal yang diperlukan pangeran dunia hiburan ini adalah ketenangan. Tapi dunia nampak enggan mengasihaninya.

Mendengus, ia menoleh ke samping. Melalui kaca jendela mobil di sebelah kanan ia dapat melihat dengan jelas versi dua dimensi dirinya yang tergambar pada
 billboard besar di sudut pertokoan. Layar digital itu menampilkan Lee Byul dalam balutan pakaian putih tengah mengiklankan salah satu merk ponsel. Ia ingat syutingnya dilakukan bulan lalu. Pandangannya lantas beralih pada sekitar selusin pejalan kaki yang sengaja berhenti di trotoar untuk mendongak dan memperhatikan iklan komersial itu. Dua orang anak perempuan berseragam SMA bahkan menunjuk-nunjuk dan saling terkikik dengan wajah bersemu merah.

Perasaan janggal menjalar melalui jari-jari kakinya. Apa para penggemar selalu sebahagia itu walau hanya melihat idolanya melalui layar besar di pinggir jalan? Tidak peduli ramai ataupun panas, mereka sengaja menunda kesibukan hanya untuk mengagumi dan memuji wajahnya yang terpampang di pinggir jalan. Ia mengerjap. Mereka itu bodoh atau apa?

Setelah jerit klakson mobil di belakang membangunkan Lee Byul dari lamunan, sepanjang perjalanan selanjutnya pertanyaan manajer Ma tak berhenti berputar-putar dalam kepalanya bahkan hingga ketika ia tiba di rumah dan berbaring di kasur yang nyaman. Meski berusaha keras memejamkan mata untuk melupakan segalanya, ia tak kunjung berhasil. Akhirnya memutuskan untuk menyerah mencoba tidur. Byul bangkit, menempatkan diri dalam posisi duduk. Perhatiannya tanpa sengaja tertumbuk pada sampul buku berwarna biru pastel yang tergeletak di meja sisi tempat tidur. Tergelitik, ingin mengintip.

Buku Harian Rintik Hujan

—Lee Byul mengeja tulisan yang terukir pada halaman pertama tanpa suara, kemudian halaman-halaman selanjutnya. Perlahan. Ia berusaha menyerap makna yang tersirat pada setiap tulisan. Sesekali dahinya berkerut, terkadang ekspresinya mengeras, tetapi tetap dibacanya hingga penghujung buku.


***


Sebuah tarikan napas panjang mengakhiri perjalanannya mengarungi dunia seorang gadis yang tak dikenal, kemudian debum pelan ketika buku itu kembali dikatupkan. Lama Lee Byul terdiam. Ia membayangkan jelas melalui pikiran, berdasarkan apa yang baru saja dipelajarinya. Bagaimana kisah awal mengenai kejamnya kehidupan memperlakukan gadis itu.

Bagaimana lantas ‘pertemuan’nya dengan seorang yang disebutnya ‘Kak Byul’ dan bagaimana kian hari kian besar hasratnya untuk semakin mendambakan pemuda yang dipujanya bak juru selamat—ksatria yang membuat semangat hidup menyala dalam lentera matanya. Dan bagaimana pula anak perempuan yang usianya pasti masih berkisar belasan tahun ini, pada akhirnya nekad meninggalkan satu-satunya tempat yang dapat disebut rumah untuk berteduh dalam bangunan lapuk di sebelah tempat tinggal pujaannya. Ya, hanya agar dapat merasa lebih dekat dengan orang yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Byul, yang saat ini tengah menggenggam buku yang ditulis gadis tersebut.

Hari itu isi sebuah buku kusam berhasil membuka mata seorang artis idola remaja seisi negeri. Seolah kesadaran yang telah lama terkubur dalam nurani terbangunkan. Selama ini ia tidak pernah menyadari—bukan, ia terlalu malas untuk repot-repot peduli—seberapa besar ketulusan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mengaku selalu mendukung dan mencintainya. Atau sebaliknya, seberapa besar arti kehadirannya bagi mereka. Ia tahu jumlah pengunjung situs pribadinya mencapai ratusan ribu setiap hari. Ia tahu jumlah anggota
 fans club-nya nomor satu dibanding artis-artis saingan bisnisnya. Tetapi semua itu dianggapnya tak lebih dari sekedar parameter nilai suatu popularitas.

Satu hal yang tidak ia sadari adalah, sebagaimana dirinya menganggap mereka semua bukanlah apa-apa, setiap penggemar menganggap dirinya adalah segalanya.


***


Lee Byul baru saja selesai menggoreskan coretan yang ditulisnya tepat di bawah kalimat terakhir milik si gadis pemilik buku harian, ketika bel rumahnya berbunyi. Ia melirik jam dinding—baru pukul delapan lewat dua puluh menit—siapa gerangan berkunjung pagi-pagi di hari libur? Barangkali manajer Ma terlalu banyak minum karena kencan buta dengan teman internetnya semalam tidak berjalan dengan lancar, ia menduga. Sudah hampir menjadi rutinitas bagi sang manajer untuk melarikan diri ke tempatnya ketika hal semacam itu terjadi.

Byul sudah siap akan menceramahi pria paruh baya yang tidak ada kapoknya mengencani kenalan wanita dari dunia maya itu, ketika membuka pintu rumah dan yang ditemuinya malah sosok sama sekali berbeda. Ia terhenyak, mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya mendengungkan pertanyaan.

“Kau siapa?”

Sosok pemilik uraian rambut ikal kecoklatan sepanjang pinggang itu tidak langsung menjawab. Sepasang bibir mungilnya terbuka sedikit, membentuk senyum-setengah-jadi. Ia seperti ikut terpana dan berenang di dalam dunia kecilnya sendiri. Sementara Byul lekat-lekat memperhatikan syal putih yang terikat di leher jenjang gadis di hadapan,
 cardigan biru muda yang ia kenakan, dan lekuk indah milik pinggang tempat rok lipit selutut dengan warna senada menggantung.

“Apa kabar? Aku tetangga baru yang akan menghuni rumah sebelah.”

Sopran riang itu sepenuhnya mendaratkan kesadaran Byul untuk menjejak pada dunia nyata maka spontan ia mengangguk. Detik berikut mendarat tatapan mata coklatnya pada sepasang lain milik insan berjarak tak lebih dari tiga hitungan jengkal.

“Hai, aku Lee Byul.”

“Tentu saja aku tahu! Aku menonton dramamu di
 channel satu setiap hari.”

“Terima kasih.”

“Oh ya, namaku…”

“Tunggu sebentar. Sepertinya hujan akan segera turun. Bagaimana kalau kita mengobrol di dalam rumah saja?”




***


Seperti bumi yang tabah menjadi tempat gerimis berpulang, seperti itulah aku akan balas mencinta.

—Lee Byul

Credit:
1)Dipetik dari lirik lagu: ’Fan’ oleh Epik High
2)Terinspirasi dari bait syair: ‘Hujan Bulan Juni’ dan ‘Aku ingin’ oleh Sapardi Djoko Damono

No comments:

Post a Comment